Bogor//suaratnipolri.com/
Forum Kabuyutan Pakuan Padjajaran sukses menggelar acara halal bihalal di gedung bumi Ageng batu tulis bogor Gabungan organisasi masyarakat (ormas), paguyuban, sanggar, dan yayasan Kasundaan
Antusias masyarakat sangat tinggi dengan acara ini yang bertema “silaturahmi jaga warisan budaya silih asuh silih asih silih wangian,” kegiatan ini menjadi simbol kuat kebersamaan lintas elemen budaya Sunda. menunjukkan komitmen bersama dalam menjaga jati diri serta menegakkan marwah Kasundaan, khususnya di wilayah Bogor.(18/4)
Kegiatan ini di hadiri sekitar 300 orang dari berbagai elemen dari dinas kebudayaan ,pariwisata , organisasi , paguyuban , yayasan , sanggar , tokoh masyarakat , tokoh budaya sekaligus pelaku budaya tokoh Kasundaan dan putra putri dari berbagai wilayah khususnya Bogor kota dan kabupaten
Acara di awali dengan dengan pembukaan ,sambutan sambutan , dari panitia , perwakilan ormas dan paguyuban serta dinas kebudayaan
Wejangan dari salah satu paguyuban ” ngariung akur,ngariung akur ulah silih ukur, lamun ngahiji pasti sakti , lamun pa kia kia pucukna pasea , lain ngajago tapi ngajaga ” jaga alam , alam bisa menjaga kita jaga sumber daya untuk kesejahteraan kita semua .
Dilanjut dengan renungan dalam do’a menyentuh hati sanu bari di iring sesi Poto bersama lanjut dengan saling memaafkan dan jabat tangan membuktikan bahwa adab segala nya untuk menuju silih asuh silih asih silih wangian
pentingnya nilai silih asuh, silih asih, dan silih wangian sebagai fondasi utama kebersamaan.
Kegiatan ini berlangsung dengan khidmat dengan semangat silih asuh , silih asih, dan silih wangian . Nilai luhur warisan inilah yang mampu mempersatukan kita semua
Salah satu momen penting dalam kegiatan ini adalah bukti bahwa ormas paguyuban sanggar dan para tokoh menjunjung tinggi nilai nilai luhur budaya sebagai langkah strategis dalam memperkuat ekosistem kebudayaan daerah.
Rangkaian acara ditutup dengan penampilan dari pencak silat yang akan menjadi generasi selanjutnya
Acara ini menjadi simbol penghormatan terhadap leluhur (karuhun) sekaligus pengingat akan akar sejarah budaya Sunda yang harus terus dijaga dan diwariskan dan di lestarikan.
(Saeful)




