Jakarta//suaratnipolri.com/

Sebuah momen menarik sekaligus sarat makna terjadi di sela-sela acara Kopi Darat Nasional (KOPDARNAS) Forum Silaturahmi Rhoma And Soneta (FORSA) di Bumi Perkemahan Ragunan, Jakarta Selatan, Minggu (26/4). Di tengah ribuan kader yang hadir, pertemuan dua sosok yang memiliki kemiripan fisik sangat mencolok menggambarkan lebih dari sekadar kebetulan; ia menjadi metafora hidup tentang persatuan di tengah keberagaman.

 

Asha Syapa Dertiani (24), kader asal Cianjur, Jawa Barat, dan Rima Maharani (23), kader asal Lebak, Banten, bagaikan “pinang dibelah dua”. Kehadiran mereka berdampingan di tenda panitia sontak menyedot perhatian massa. Bukan hanya karena kemiripan wajah, tetapi karena dialog spontan yang mereka lontarkan justru menyentuh inti dari nilai-nilai kebangsaan yang selama ini digaungkan oleh Raja Dangdut, H. Rhoma Irama.

 

“Saya tidak menyangka. Ini seperti melihat cermin, tapi lebih dari itu, ini mengingatkan saya pada pesan Bang Haji bahwa perbedaan domisili, suku, bahkan ciri fisik bukanlah penghalang untuk bersaudara. Ini takdir yang memperkuat ikatan silaturahmi kami,” tutur Asha dengan mata berkaca-kaca usai sesi foto bersama.

 

Sementara itu, Rima, melihat momen ini sebagai bukti nyata bahwa musik dan kecintaan terhadap seni Soneta memiliki daya rekat sosial yang luar biasa. “Kami tidak memiliki hubungan darah, tidak pernah saling kenal, namun merasa seperti keluarga. Ini bukan sekadar viral. Ini adalah pesan bahwa Indonesia, walau beragam wajah, pada dasarnya adalah satu,” ujar Rima dengan nada penuh perenungan.

 

Menanggapi fenomena ini, H. Agus Chandra, SE, Ketua DPC FORSA Kabupaten Cianjur, menilai bahwa pertemuan Asha dan Rima harus dimaknai secara lebih substantif. “FORSA lahir dari semangat untuk menegakkan nilai-nilai Islam, persaudaraan, dan nasionalisme. Kemiripan Asha dan Rima adalah analogi sempurna: seperti dua kader yang berbeda daerah namun memiliki visi yang sama. Ini menjadi pemantik semangat bahwa keberagaman itu indah selama kita memiliki satu irama, satu jiwa, yaitu Indonesia dan Soneta,” tegasnya.

 

Selain menjadi sorotan publik, acara KOPDARNAS yang berlangsung selama dua hari ini juga diisi dengan seminar kebangsaan dan bedah lagu-lagu Soneta bertema kritis sosial. Para pengamat budaya yang turut hadir menilai bahwa fenomena “kembaran” ini justru berhasil mengemas pesan persatuan dengan cara yang lebih populis dan mudah dicerna generasi muda.

 

(tim)