Jakarta//suaratnipolri.com/
Bumi Perkemahan Ragunan, Jakarta Selatan, biasanya sunyi selepas musim perkemahan pramuka. Namun akhir pekan ini, Sabtu-Minggu (25-26/4/2026), tempat itu bergetar. Bukan oleh tenda pramuka, melainkan oleh alunan nada dangdut khas Bang Haji Rhoma Irama dan ribuan suara yang meneriakkan yel-yel Forum Silaturahmi Orang Rhoma dan Soneta (FORSA).
Tapi di tengah hiruk-pikuk Kopi Darat Nasional (KOPDARNAS) yang penuh semangat, sebuah tenda sederhana beraroma asap kayu bakar dan rempah rempah tiba-tiba mencuri perhatian. Tenda itu bukan panggung, melainkan dapur lapangan: UMKM Nuansa Sunda asal Cianjur.
Dipimpin oleh seorang perempuan tangguh, Nisa Nurbaeti, tenda ini menjelma menjadi “kiblat” baru para peserta. Aroma sambal goang yang pedas meroket berpadu dengan wangi pepes ikan mas dan lalapan segar yang ditata rapi. Hasilnya? Dalam hitungan jam, dagangan ludes.
Di sela-sela melayani antrean panjang yang mengular hingga tenda sebelah, Nisa Nurbaeti menyeka keringat di dahinya sambil tersenyum puas. Wajahnya tampak sumringah ketika berbincang dengan awak media, Sabtu (25/4/2026)
“Alhamdulillah, antusiasme luar biasa. Ini bukan ayam bakar biasa. Kami bawa langsung bumbu heuras (racikan khas) dari Cianjur. Ada pepes ikan mas, tahu sumedang, ditambah sambal goang yang pedasnya ‘ndower’ khas Cianjur. Lengkap dengan lalapan mentah dan rebus. Semua habis! Para abang-abang FORSA sampai rebutan,” ujar Nisa dengan logat Sunda yang khas, matanya berbinar.
Menurut Nisa, kehadiran di ajang sebesar KOPDARNAS adalah lompatan besar. “Kami ingin buktikan bahwa UMKM lokal Cianjur bukan hanya jualan biasa, tapi punya nyali untuk bersaing di panggung nasional,” tambahnya.
Keberanian Nisa membawa “Nuansa Sunda” ke tengah ibu kota bukanlah tanpa sebab. Di balik tenda itu, berdirilah sosok berkacamata dengan kemeja batik lengan panjang: H. Agus Chandra, SE, Ketua DPC FORSA Cianjur.
Dengan suara tegas namun bersahabat, H. Agus menjelaskan bahwa ini adalah operasi strategis. Bukan sekadar jualan, ini adalah misi pemberdayaan.
“Ini eksekusi program kerja kami di bidang ekonomi kreatif. Kami di FORSA Cianjur ingin menunjukkan bahwa penggemar Rhoma Irama itu bukan hanya jago bernyanyi lagu ‘Begadang’ atau ‘Kereta Malam’, tapi juga punya jiwa wirausaha yang membanggakan. Kami benci pengangguran, kami cinta UMKM,” tegas Kang Agus—sapaan akrabnya—di lokasi.
Ia mengungkapkan, Nisa Nurbaeti dipilih karena satu alasan: konsistensi pada otentisitas. “Masakan Sunda gampang ditemukan. Tapi yang khas Cianjur itu detail rasa dan kesegaran bahannya. Ibu Nisa memegang itu. Itulah ‘bobot’ yang kami tawarkan di tengah hiruk-pikuk Jakarta,” tambahnya.
Selama dua hari penuh (25-26 April 2026), Bumi Perkemahan Ragunan berubah fungsi. Dari barisan tenda panitia hingga panggung utama yang megah, semuanya berpadu. Namun stan UMKM Nuansa Sunda menjadi bukti nyata bahwa silaturahmi tidak hanya dimaknai dengan jabat tangan, tapi juga dengan “menyuapi” sesama.
Para peserta KOPDARNAS yang datang dari berbagai provinsi mengaku terkesan. “Biasanya kopdar cuma dengerin musik. Ini plus makan enak. Samba Goangnya nempel di lidah, nagih!” ujar Budi, salah satu peserta asal Jawa Timur, antre untuk porsi kedua.
“KOPDARNAS tahun depan di kota mana pun, kami siap datang. Ini bukan sekadar dagang. Ini ladang silaturahmi. Dari Cianjur untuk Indonesia. Semoga dengan panggung nasional seperti ini, UMKM kami naik kelas. Dan semoga FORSA makin erat, karena perut yang kenyang bikin persaudaraan makin kuat,” tutup Nisa sambil tertawa lepas, diiringi tepuk tangan beberapa pengunjung yang tersisa.
KOPDARNAS FORSA 2026 yang awalnya bertajuk konsolidasi penggemar dangdut, akhirnya berhasil berubah menjadi etalase budaya dan ekonomi yang hidup. Berkat sentuhan hangat sambal goang dan kepedulian H. Agus Chandra, dangdut dan lalapan terbukti jadi perpaduan nasional yang sempurna.
Asep




