Pontianak//suaratnipolri.com/

Organisasi Cagar Suara Kawula (Caraka Khatulistiwa) menggelar diskusi publik bertajuk “Membedah Danantara dalam Perspektif Pengawasan Publik serta Pengembangan BUMD dan SDM di Kota Pontianak”, pada Sabtu (24/4/2025). Kegiatan yang berlangsung di Kota Pontianak ini dihadiri oleh 156 peserta dari berbagai unsur mahasiswa, organisasi kepemudaan, dan elemen masyarakat.

 

Diskusi menghadirkan tiga narasumber utama, yakni akademisi dan tokoh masyarakat Bapak Zulfydar Zaidar Mochtar, pengamat kebijakan publik Bapak Muhammad Fahmi, serta aktivis sosial Bapak Edi Suhairul atau yang akrab disapa Edi “Jenggot”. Mereka mengupas tuntas potensi serta tantangan kehadiran Danantara sebagai lembaga investasi nasional yang baru saja dibentuk oleh pemerintah pusat di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.

 

Dalam sambutannya, perwakilan Cagar Suara Kawula menyampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan memberikan ruang edukatif dan kritis kepada masyarakat, khususnya generasi muda, dalam memahami peran Danantara serta peluang yang bisa dimanfaatkan di tingkat daerah.

 

“Danantara menjadi topik aktual yang sarat pro dan kontra. Karena itu, penting bagi masyarakat untuk memahami secara mendalam, bukan sekadar skeptis. Kami ingin diskusi ini mendorong pengawasan publik yang sehat dan partisipatif,” ujarnya.

 

Partisipasi Luas Elemen Mahasiswa dan Pemuda

 

Antusiasme peserta terlihat dari kehadiran lebih dari 150 orang dari berbagai latar belakang. Unsur mahasiswa berasal dari Universitas Tanjungpura (Untan), Polnep, IAIN Pontianak, IKIP, STIE, Universitas Muhammadiyah Pontianak, Universitas OSO, serta BSI. Selain itu, turut hadir perwakilan mahasiswa dari Kabupaten Landak, Sekadau, dan Ketapang.

 

Keterlibatan organisasi kepemudaan juga menambah warna diskusi, antara lain BEM Untan, UPB, Pemuda Katolik, HMI, IMM Pontianak dan IMM Al-Fatihah, serta HMPPPK. Elemen masyarakat umum juga turut bergabung dalam forum tersebut.

 

Potensi Besar untuk Daerah dan SDM Lokal

 

Dalam pemaparannya, Zulfydar Zaidar Mochtar menjelaskan bahwa Danantara memiliki potensi besar untuk memperkuat pembangunan nasional jika dikelola secara profesional dan transparan.

 

“Danantara dibentuk sebagai lembaga pengelola investasi yang independen dan profesional. Kita harus mendorong agar lembaga ini berfungsi dengan baik, tidak hanya untuk kepentingan pusat, tetapi juga daerah-daerah seperti Kalimantan Barat. Melalui transparansi dan pengawasan publik, potensi untuk memperkuat BUMD dan membuka lapangan kerja sangat besar,” jelasnya.

 

Sementara itu, Muhammad Fahmi menyoroti kesiapan SDM di Kota Pontianak dalam menyambut masuknya investasi dari Danantara. Ia menilai, dengan perencanaan dan pelibatan generasi muda, Pontianak memiliki peluang kuat untuk menjadi bagian dari transformasi ekonomi nasional.

 

“SDM kita memiliki kualitas yang baik, dan jika dikaitkan dengan rencana investasi nasional senilai Rp320 triliun, maka ini peluang emas. Kita perlu mengkaji bersama bagaimana agar dampaknya bisa masuk ke daerah dan memperkuat PAD serta kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.

 

Suara Akar Rumput: Dari Masyarakat untuk Masyarakat

 

Edi Suhairul alias Edi “Jenggot” menegaskan bahwa diskusi ini menjadi contoh konkret bagaimana masyarakat bisa terlibat aktif dalam memahami arah kebijakan negara. Menurutnya, ruang diskusi seperti ini seharusnya terus digalakkan di tengah masyarakat.

 

“Kegiatan seperti ini luar biasa. Masyarakat jadi paham, tidak hanya ikut-ikutan komentar di media sosial. Kita ingin Danantara ini betul-betul memberi manfaat, bukan jadi ladang baru yang lepas dari kontrol rakyat. Masyarakat harus terlibat sejak awal,” tegasnya.

 

Menutup Diskusi dengan Harapan dan Ajakan

 

Diskusi ditutup dengan harapan agar keterlibatan publik dalam pengawasan lembaga strategis seperti Danantara terus diperkuat. Cagar Suara Kawula mengajak seluruh elemen untuk tidak hanya kritis, namun juga partisipatif dalam mendorong pembangunan berbasis kepentingan rakyat.

 

“Semoga kegiatan ini menjadi pemantik untuk diskusi-diskusi serupa di kemudian hari. Kami ingin masyarakat tidak tertinggal dalam arus perubahan. Justru harus jadi bagian penting dalam proses pembangunan yang adil dan berkelanjutan,” pungkas perwakilan Caraka Khatulistiwa.(Kin NRA)