CIANJUR//suaratnipolri.com/
Ribuan warga Cianjur memadati sepanjang jalan protokol dalam gelaran Cianjur Fest 2026, Sabtu (22/8/2026). Pawai budaya yang menjadi puncak peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI sekaligus Hari Jadi Cianjur ke-349 ini mengusung tema “Rahayat Raksa Raharja”—sebuah penegasan bahwa rakyat adalah garda terdepan dalam menjaga kesejahteraan bersama.
Rute pawai membentang dari Jalan Perintis Kemerdekaan, melintasi Jalan Prof. Moch Yamin, Jalan KH Hasyim Ashari, hingga Jalan Mangunsarkoro, dan berakhir megah di kawasan Alun-alun serta halaman Masjid Agung Cianjur. Sebanyak 86 peserta unggulan memeriahkan karnaval, terdiri dari 36 kendaraan hias, 32 kelompok kesenian perwakilan kecamatan, serta 18 komunitas budaya dan organisasi perangkat daerah.
Di tengah gemerlap kendaraan hias dan atraksi seni, iring-iringan Kuda Kosong dan Kereta Kencana jajaran Forkopimda menjadi pusat perhatian. Namun di balik kemegahannya, tradisi ini menyimpan makna historis yang dalam.
Pemangku adat tradisi Kuda Kosong, Ustaz Dadang Ahmad Fajar, menjelaskan bahwa helaran ini adalah simbol diplomasi Cianjur dengan Mataram tanpa pertumpahan darah.
“Ini fakta historis, memberikan edukasi kepada masyarakat. Kuda Kosong menunjukkan bahwa Cianjur bersahabat dengan Mataram—cukup dengan diplomasi, tanpa peperangan,” ujarnya.
Dadang mengungkapkan, kesepadanan hubungan Cianjur-Mataram disebut sawawa. Saat itu, Cianjur yang masih dalam tahap membangun memberikan upeti simbolis: tiga butir lada, tiga butir padi, dan tiga butir biji cabai.
Secara pedagogis, kuda hadiah Raja Mataram untuk kakaknya di Cianjur tidak ditunggangi—melainkan diarak kosong—sebagai bentuk penghormatan. Adapun secara sosiologis, tradisi ini menjadi otokritik bagi para pemimpin: apakah mereka siap mengurus rakyat yang berada di belakangnya?
“Kukus yang menyertainya bukan simbol mistis, tetapi simbol bahwa lamun rek jadi Bupati di Cianjur kudu menyebarken hela kawangi—harus berjasa dahulu,” tegas Dadang.
Di tengah kebijakan efisiensi anggaran, Bupati Cianjur Mohammad Wahyu Ferdian menegaskan bahwa pesta rakyat ini tetap digelar. Baginya, Cianjur Fest bukan sekadar hiburan—melainkan upaya pelestarian warisan leluhur sekaligus penggerak ekonomi kerakyatan.
“Kami ingin memastikan UMKM dan pedagang kecil merasakan dampaknya. Hari ini mereka kebanjiran pengunjung,” ujarnya. (Asep)




