Pontianak//suaratnipolri.com/

Ikatan Penyuluh Agama Republik Indonesia (IPARI) Provinsi Kalimantan Barat menggelar Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) II Tahun 2025 di Kota Pontianak, Senin (8/9).

 

Kegiatan yang dihadiri ratusan penyuluh agama dari 14 kabupaten/kota ini bertujuan memperkuat peran penyuluh lintas agama dalam memberikan edukasi keagamaan sekaligus mendukung program pembangunan di daerah.

 

Ketua Panitia  Fitra, menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kota Pontianak atas dukungan penuh dalam penyelenggaraan acara ini. “Kami bersyukur dukungan Pemkot Pontianak memudahkan pelaksanaan kegiatan ini. Para penyuluh yang hadir dari berbagai kabupaten/kota akan merumuskan program kerja yang lebih tajam dan berdampak bagi masyarakat,” ujarnya.

Ketua PW IPARI Kalbar, H. Kartono, menambahkan bahwa penyuluh agama memiliki posisi strategis sebagai jembatan komunikasi antara pemerintah dan masyarakat.

 

“Penyuluh ini ibarat APBN yang berjalan, karena mereka dibiayai negara untuk menjangkau masyarakat secara langsung. Maka sudah seharusnya mereka dilibatkan dalam berbagai program lintas sektor,” tegasnya.

 

Kepala Kanwil Kementerian Agama Provinsi Kalimantan Barat, Dr. Muhajirin Yanis, turut hadir memberikan sambutan. Ia menekankan bahwa penyuluh agama adalah ujung tombak Kementerian Agama dalam memperkuat kerukunan umat beragama dan mengedukasi masyarakat terkait isu-isu sosial strategis.

 

“Penyuluh agama bukan hanya menyampaikan dakwah atau bimbingan rohani, tetapi juga menjadi agen perubahan sosial. Mereka berperan dalam mengedukasi masyarakat terkait isu kesehatan, pencegahan stunting, narkoba, dan kenakalan remaja. Kolaborasi dengan pemerintah daerah sangat penting agar program yang dijalankan lebih tepat sasaran,” ujar Dr. Muhajirin.

 

 

Sementara itu, Wali Kota Pontianak, Ir. Edi Rusdi Kamtono, M.M., M.T., yang membuka acara secara resmi, menyampaikan apresiasi atas kiprah penyuluh agama di Kota Pontianak dan Kalimantan Barat. Ia menegaskan perlunya sinergi antar instansi dan lintas agama untuk menciptakan masyarakat yang harmonis dan berdaya.

 

“Penyuluhan agama adalah kebutuhan dasar manusia. Penyuluh harus bisa memberi dampak nyata, baik dalam pembinaan umat, pencegahan masalah sosial, hingga penguatan toleransi antar umat beragama,” kata Wali Kota.(Kin)